SELECTED NEWS
SURPLUS NERACA PEMBAYARAN INDONESIA MENINGKAT MENJADI US$4,3 MILIAR PDF Print E-mail
Friday, 15 August 2014 00:00

Jakarta, 15/8/2014 (Kominfonewscenter) – Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) triwulan II-2014 membaik di tengah tekanan defisit transaksi berjalan yang meningkat, defisit transaksi berjalan triwulan II-2014 mencapai US$9,1 miliar (4,27% PDB).

Menurut Departemen Komunikasi Bank Indonesia Jumat (15/8), surplus NPI meningkat dari US$2,1 miliar pada triwulan sebelumnya menjadi US$4,3 miliar pada triwulan II-2014.

Membaiknya kinerja NPI tersebut ditopang oleh transaksi modal dan finansial yang mencatat peningkatan surplus yang signifikan dibandingkan dengan triwulan I-2014 sehingga dapat membiayai sepenuhnya defisit transaksi berjalan yang melebar sesuai pola musimannya.

Peningkatan surplus NPI triwulan II-2014 tersebut pada gilirannya mendorong kenaikan posisi cadangan devisa dari US$102,6 miliar pada akhir triwulan I-2014 menjadi US$107,7 miliar pada akhir triwulan II-2014.

Jumlah cadangan devisa ini cukup untuk membiayai kebutuhan pembayaran impor dan utang luar negeri Pemerintah selama 6,1 bulan dan berada di atas standar kecukupan internasional, pada Juli 2014 posisi cadangan devisa kembali meningkat menjadi US$110,5 miliar.

Meskipun mengalami peningkatan defisit dibanding triwulan sebelumnya, kinerja transaksi berjalan triwulan II-2014 lebih baik dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$10,1 miliar (4,47% PDB).

Perbaikan kinerja transaksi berjalan tersebut terutama ditopang oleh kenaikan surplus neraca perdagangan nonmigas seiring penurunan impor mengikuti pelemahan permintaan domestik.

Namun demikian, peningkatan surplus neraca perdagangan nonmigas tersebut belum mampu mengimbangi kenaikan defisit neraca perdagangan migas.

Sesuai pola musiman, defisit transaksi berjalan triwulan II-2014 lebih tinggi dibanding defisit triwulan I-2014 sebesar US$4,2 miliar (2,05% PDB).

Di sisi nonmigas, surplus neraca perdagangan nonmigas menyempit karena impor nonmigas meningkat 12,4% (qtq) antara lain terkait dengan naiknya kebutuhan menjelang puasa dan Idul Fitri.

Di sisi lain, ekspor nonmigas tumbuh 1,0% (qtq) terutama dipengaruhi turunnya permintaan ekspor berbasis sumber daya alam, seperti batubara dan minyak nabati, seiring dengan melambatnya pertumbuhan di negara emerging serta dampak kebijakan pembatasan ekspor mineral mentah.

Sementara itu, ekspor produk manufaktur terus meningkat sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi negara maju.

Di sisi migas, defisit neraca perdagangan migas melebar karena impor migas meningkat, terutama karena bertambahnya volume impor minyak mentah, sementara ekspor migas mengalami penurunan terutama akibat ekspor LNG yang lebih rendah.

Selain itu, tekanan defisit transaksi berjalan juga dipengaruhi oleh melebarnya defisit neraca jasa dan neraca pendapatan primer.

Pada triwulan II-2014, sesuai dengan pola musimannya, defisit neraca jasa melebar akibat meningkatnya pembayaran jasa transportasi barang seiring dengan kenaikan impor serta meningkatnya perjalanan masyarakat ke luar negeri selama musim liburan sekolah.

Dalam periode yang sama, defisit neraca pendapatan primer juga meningkat mengikuti jadwal pembayaran dividen dan bunga utang luar negeri kepada investor asing.

Di tengah berlanjutnya ketidakpastian pasar keuangan global, kepercayaan investor asing yang masih kuat terhadap prospek ekonomi Indonesia mendorong peningkatan surplus transaksi modal dan finansial.

Surplus transaksi modal dan finansial pada triwulan II-2014 mencapai US$14,5 miliar, meningkat signifikan dari US$7,6 miliar pada triwulan I-2014, didukung oleh derasnya aliran masuk modal portofolio dan aliran masuk investasi langsung yang tercatat lebih besar dibanding triwulan I-2014 sebagai cerminan terpeliharanya optimisme investor terhadap prospek perekonomian domestik. (mmd)

 

 

Statistik

Members : 9343
Content : 3806
Web Links : 1
Content View Hits : 1832592

Pengumuman

KominfoNewsCenter

Who's Online

We have 53 guests online