SELECTED NEWS
PENGATURAN DAN PENGENDALIAN SOLAR DAN PREMIUM BERSUBSIDI PDF Print E-mail
Tuesday, 05 August 2014 00:00

Jakarta, 5/8/2014 (Kominfonewscenter) – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik menegaskan tidak ada istilah pencabutan subsidi tapi pengendalian penggunaan solar dan premium  bersubsidi di daerah-daerah tertentu dan klaster-klaster tertentu.

Menteri ESDM mengatakan jumlah kuota BBM bersubsidi tahun 2010 sebesar 38,23 juta kiloliter, 2011 47,1 juta kiloliter, 2012 45 juta kiloliter, dan tahun 2013 46,36 juta kiloliter, kuota adalah jumlah juta kiloliter yang dialokasikan boleh mendapat subsidi selama satu tahun.

“Jadi setiap tahun itu naik kebutuhannya, mengapa naik karena makin sejahtera masyarakatnya, jadi kebutuhan listrik naik, kebutuhan BBM naik”, kata Menteri Jero pada jumpa pers terkait pengendalian jenis BBM tertentu tahun 2014 di Kantor Kementerian ESDM, Selasa (5/8).

Sampai semester pertama 2014, realisasi penyaluran BBM bersubsidi mencapai 22,91 juta kiloliter, lebih tinggi dari kuota sebesar 22,81 juta kiloliter, sementara pada periode yang sama tahun 2013 sebesar 22,74 juta kiloliter.

Kenaikan volume BBM bersubsidi tersebut antara lain disebabkan pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor.

Menurut Menteri Jero sepeda motor tahun ini akan bertambah sekitar 9 juta lebih dan mobil bertambah 1,2 juta. “Kalo setiap tahun ditambah motor dan ditambah mobil maka logikanya itu pasti makan BBM”, kata Jero.

Tahun 2014 ia mengajukan 48 juta kiloliter baru cukup sampai dengan akhir tahun. “Tetapi waktu pembahasan dengan DPR kami diminta, cobalah 46 juta kiloliter bisa nggak, sebetulnya berat, karena mustinya naik”, ujar Jero.

Total cost biaya membuat satu liter premium sekarang Rp12 ribuan, dijual ke publik Rp6.500. “Artinya ada sejumlah Rp5.500 ditalangi oleh pemerintah, itu yang namanya di subsidi”, kata Jero.

“Solar juga begitu ilmunya, solar Rp12.500 dijual Rp5.500 berarti Rp7.000 yang di subsidi”, tambah Jero.

Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Andy Noorsaman Sommeng mengatakan agar kuota BBM subsidi yang sebelumnya ditetapkan sebesar 48 juta kiloliter yang diturunkan menjadi 46 juta kiloliter dalam APBN-P 2014 bisa mencukupi hingga akhir Desember 2014, BPH Migas telah menginstruksikan Pertamina untuk melakukan pembatasan jam operasi layanan solar subsidi dari pukul 08.00-18.00 di daerah Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Bali.

“Kena apa jam 08.00 sampai jam 18.00 itu diatur berkaitan dekat-dekat dengan kegiatan yang tentunya rawan terhadap penyalahgunaan BBM”, kata Andy.

BPH Migas juga menginstruksikan Pertamina tidak menjual BBM bersubsidi terutama solar di wilayah Jakarta Pusat, tidak menjual premium di rest area semua jalan tol, mengutamakan layanan kepada nelayan dengan kapal dibawah 30 GT, menyediakan BBM non-subsidi di setiap outlet pada setiap SPBU di seluruh tanah air, serta sosialisasi kepada semua SPBU. (msy)

 

Statistik

Members : 26801
Content : 3806
Web Links : 1
Content View Hits : 2452347

Pengumuman

KominfoNewsCenter

Who's Online

We have 55 guests online