SELECTED NEWS
PERKEMBANGAN TERKINI EKONOMI DUNIA PDF Print E-mail
Saturday, 17 May 2014 00:00

Jakarta, 17/5/2014 (Kominfonewscenter) – Perbaikan kondisi ekonomi global terindikasi masih terus berlangsung pada triwulan I 2014, berdampak pada kenaikan volume perdagangan dunia, namun dampak terhadap kenaikan harga komoditas belum terlalu kuat karena melemahnya permintaan global, khususnya Tiongkok dan pasokan yang meningkat, khususnya pada komoditas karet, tembaga, dan batubara.

LKM triwulan I-2014 Bank Indonesia menyebutkan, perkembangan ekonomi global diwarnai kondisi negara maju, khususnya AS dan Eropa yang semakin baik, di tengah kondisi negara berkembang yang masih cenderung menurun, indikator AS terus menunjukkan perbaikan yang didukung oleh kinerja sektor manufakturnya.

Perbaikan juga terjadi di Eropa yang didukung oleh membaiknya indikator manufaktur Perancis.

Sebaliknya, perlambatan ekonomi terjadi di Tiongkok didorong oleh penurunan permintaan yang tercermin pada realisasi PDB Tiongkok triwulan I 2014 yang lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya.

Kondisi ekonomi negara berkembang lainnya juga sedikit menurun antara lain dipengaruhi oleh faktor gejolak politik/ekonomi sebagaimana yang terjadi di Rusia, Argentina, dan Thailand, serta faktor harga komoditas yang masih rendah sebagaimana yang terjadi di Argentina, Chile, Peru, dan Venezuela.

Di AS, momentum perbaikan ekonomi terus berlanjut meskipun data realisasi PDB triwulan I 2014 menurun dibanding triwulan sebelumnya, ekonomi AS pada triwulan I 2014 tumbuh melambat menjadi 2,3% (yoy) dari triwulan sebelumnya sebesar 2,6% (yoy).

Perlambatan tersebut terutama dipengaruhi oleh cuaca dingin ekstrim (Big Freeze) yang menghambat aktivitas produksi dan cenderung melemahnya permintaan dari eksternal.

Namun, berbagai indikator ekonomi AS lainnya menunjukkan perkembangan yang positif, rilis data penjualan ritel semakin kuat sejalan dengan kinerja sisi produksi (manufaktur) yang terus ekspansif, indikator tenaga kerja juga membaik sejalan dengan tingkat pengangguran yang menurun ke level 6,3% dan tren peningkatan jumlah daftar gaji (payroll).

Positifnya indikator-indikator utama AS tersebut mampu mendongkrak tingkat keyakinan konsumen mencapai titik tertinggi selama 6 tahun terakhir sehingga mendorong perkiraan ekonomi AS yang akan terus membaik di waktu yang akan datang.

Perbaikan ekonomi Eropa juga masih terus berlangsung, setelah mencatat pertumbuhan positif yang pertama kalinya pada triwulan IV 2013 pasca terkontraksi selama 7 triwulan, perekonomian Eropa terus membaik.

Perbaikan tersebut tercermin pada meningkatnya kinerja sektor manufaktur (PMI) dan sektor permintaan (retail sales).

Data PMI Eropa bulan April 2014 mencapai titik tertinggi dalam 3 bulan terakhir dan meningkat dibanding perkembangan bulan sebelumnya, di sektor tenaga kerja juga terjadi perkembangan yang positif yang ditandai oleh menurunnya tingkat pengangguran di negara-negara Eropa.

Namun, perkembangan sebaliknya terjadi di negara-negara berkembang yang mencatat penurunan.

Ekonomi Tiongkok tumbuh melambat seiring dengan proses rebalancing, pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada triwulan I 2014 menurun menjadi 7,4% (yoy) dibanding triwulan sebelumnya sebesar 7,7% (yoy).

Tren perlambatan aktivitas ekonomi Tiongkok tersebut diperkuat perkembangan beberapa indikator terkini yaitu indeks produksi dan investasi aset tetap yang berada pada tren menurun.

Kondisi serupa juga dialami oleh beberapa negara emerging market lainnya seperti Rusia, Argentina, Thailand, Argentina, Chile, Peru, dan Venezuela, yang dipengaruhi oleh faktor gejolak politik yang terjadi di beberapa negara tersebut serta menurunnya kinerja eksternal sebagai dampak dari pelemahan harga komoditas yang masih berlanjut.

Perbaikan kondisi ekonomi global yang berdampak pada kenaikan volume perdagangan dunia terlihat belum kuat mendorong kenaikan harga komoditas seperti yang diharapkan.

Sampai dengan triwulan I 2014, pertumbuhan harga komoditas global masih berada pada teritori negatif.

Harga komoditas ekspor Indonesia (IHEX) diperkirakan masih rendah karena melemahnya permintaan global, khususnya permintaan dari Tiongkok sejalan dengan proses rebalancing dan meningkatnya pasokan, khususnya pada komoditas karet, tembaga dan batubara.

Harga komoditas karet terkoreksi akibat peningkatan pasokan dari Thailand dan Malaysia.

Harga batubara juga masih melemah akibat meningkatnya pasokan terutama oleh AS terkait upaya konversi energi dari batubara ke shale gas yang mendorong ekspor batubara dari AS bertambah sehingga meningkatkan pasokan batubara internasional dan selanjutnya memicu turunnya harga batubara.

Sementara itu, harga minyak dunia juga masih berada pada tren yang menurun karena pasokan yang bertambah terutama dari negara-negara non-OPEC.

Secara keseluruhan, perbaikan ekonomi negara maju mendorong pasar keuangan global berada dalam tren meningkat.

Membaiknya realisasi data ekonomi AS serta rilis data pendapatan emiten yang positif mengindikasikan perekonomian AS berada pada fase pemulihan yang lebih solid sehingga menopang penguatan di pasar keuangan global.

Di samping itu, penguatan bursa saham AS dan Eropa juga ditopang oleh positifnya aksi merger dan akuisisi serta laporan earning emiten yang lebih baik.

Sebanyak 74 dari 279 emiten S&P yang telah merilis pendapatan mengalami keuntungan yang lebih tinggi dari perkiraan.

Perkembangan tersebut mampu mengimbangi sentimen negatif dari perkembangan krisis geopolitik Ukraina.

Sentimen positif terhadap perbaikan ekonomi AS tersebut mendorong menguatnya mata uang US$ terhadap sejumlah mata uang dunia, termasuk terhadap mata uang negara-negara emerging Asia. (mhd)

 

 

 

Statistik

Members : 9343
Content : 3806
Web Links : 1
Content View Hits : 1832600

Pengumuman

KominfoNewsCenter

Who's Online

We have 53 guests online