SELECTED NEWS
LAUTAN INDONESIA MAMPU SERAP BLUE CARBON 138 JUTA TON PDF Print E-mail
Thursday, 15 May 2014 00:00

Jakarta, 15/5/2014 (Kominfonewscenter) – Emisi gas rumah kaca termasuk karbon dioksida (CO2) yang berasal dari aktivitas manusia telah merubah iklim dunia, dan upaya untuk menguranginya menjadi topik utama berbagai diskusi tentang perubahan iklim global saat ini.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C. Sutardjo dalam sambutan pembukaan International Blue Carbon Symposium (IBCS) di Manado mengemukakan, baru-baru ini para ilmuwan menemukan fungsi penting dari ekosistem pesisir dan laut tropis sebagai penyerapan dan penyimpanan karbon, yang dikenal dengan karbon biru (Blue Carbon).

“Ekosistem pesisir dan lautan Indonesia memiliki kontribusi yang sangat besar dalam penyerapan karbon, diperkirakan hingga 138 Juta ton/tahun. Sehingga penyediaan data dan informasi ilmiah yang akurat dan relevan sangat diperlukan agar peran penting ekosistem laut dan pesisir di Indonesia tidak lagi terabaikan”, kata Menteri Sharif, seperti disiarkan Pusdatin KKP, Kamis (15/5).

Menurut Sharif, Indonesia sebagai Negara kepulauan, terletak di sepanjang garis khatulistiwa pada “jantung” yang disebut Segitiga Karang.

Karakteristik geografisnya menyebabkan iklim hangat di seluruh negeri dan telah membuat lingkungan laut dan pesisir Indonesia menjadi habitat yang cocok untuk pertumbuhan mangrove dan padang lamun.

“Bahkan, Indonesia memiliki ekosistem mangrove 3,1 juta hektar atau 23% dari mangrove dunia dan padang lamun terbesar di dunia, yaitu 30 juta hektar. Hal ini dapat memberikan kontribusi yang signifikan untuk mengurangi dampak perubahan iklim tidak hanya untuk ekosistem pesisir dan laut tetapi juga untuk lingkungan terestrial/daratan”, ujar Sharif.

Sedangkan di area Coral Triangle, ekosistem ini mencakup 52% dari distribusi global.

Dengan demikian, potensi ekosistem perlu dikelola, dimanfaatkan dan dipertahankan keberlanjutannya sehingga ekosistem ini diharapkan dapat mengurangi 25% emisi karbon secara global dan juga memberikan manfaat langsung pada masyarakat nelayan melalui kelestarian lingkungan sumberdaya ikan.

Menteri Sharif menjelaskan, analisis global yang pertama diterbitkan tentang karbon yang tersimpan di padang lamun melaporkan bahwa ekosistem lamun dapat menyimpan hingga 830 ton karbon per meter kubik per hektar, terutama di sedimen di bawah padang lamun.

Demikian pula, ekosistem mangrove telah dikenal memiliki produktivitas yang tinggi dalam siklus karbon.

Ekosistem ini dapat menyimpan sejumlah besar karbon dalam sedimen organik yang dalam, dan menyimpan lima kali lebih banyak karbon, sebagaimana yang telah diamati pada iklim, jika dibanding kemampuan penyimpanan hutan hujan tropis.

“Jumlah penyimpanan karbon yang tinggi ini menunjukkan bahwa ekosistem mangrove dapat memainkan peranan penting dalam mitigasi perubahan iklim. Kita dapat membayangkan berapa banyak karbon yang tersimpan dalam kedua ekosistem ini”, ucap Sharif.

Indonesia sebagai negara kepulauan harus siap mengambil peran aktif dalam forum regional dan internasional untuk mempromosikan peran ekosistem pesisir dan laut dalam upaya mengurangi emisi karbon.

Peran aktif ini dapat diwujudkan melalui pembentukan Blue Carbon Center  sebagai pusat pengembangan kepakaran, teknologi dan ilmu pengetahuan mengenai karbon biru. (mm)

 

 

Statistik

Members : 26814
Content : 3806
Web Links : 1
Content View Hits : 2495035

Pengumuman

KominfoNewsCenter

Who's Online

We have 24 guests online