SELECTED NEWS
DARI 207 BARU 15 TPA GUNAKAN SANITARY LANDFILL SYSTEM PDF Print E-mail
Thursday, 24 April 2014 00:00

Jakarta, 24/4/2014 (Kominfonewscenter) – Dari 542 kota/kabupaten di Indonesia, baru 207 kota/kabupaten yang memiliki Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPA) dan baru 15 TPA yang dioperasikan secara sanitary landfill, padahal Undang-Undang No.18/2008 tentang Pengelolaan Sampah mengamanatkan tahun 2013 seluruh TPA harus telah dioperasikan secara sanitary landfill.

Target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 menargetkan 80% sampah di perkotaan dapat dikelola dengan baik.

Namun demikian, data Badan Pusat Statitik menyatakan hingga tahun 2013, sampah yang dikelola melalui pengomposan baru 0,9% dan yang diangkut ke TPA baru mencapai 24,9%.

Dalam rangka memperingati Hari Bumi 2014, yang mengusung tema “The Green Cities” Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (Pokja AMPL) Nasional mengajak semua pihak dan elemen masyarakat untuk menangani permasalahan sampah bersama.

“Kerjasama menangani sampah ini ditujukan untuk semua pihak baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, pihak swasta, komunitas, dan juga seluruh masyarakat,” ujar Nugroho Tri Utomo, Direktur Permukiman dan Perumahan, Bappenas sekaligus Ketua 1 Pokja AMPL Nasional, di Jakarta, Rabu (23/4).

Fakta lain yang dihadapi pemerintah terkait besarnya jumlah produksi sampah perhari.

Data Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan, dengan perkiraan jumlah penduduk pada 2025 menjadi 270 juta jiwa, jumlah produksi sampah akan menjadi 130 ribu ton perhari.

Jumlah tersebut sebenarnya dapat menjadi potensi besar bila dimanfaatkan sebagai bahan daur ulang, namun sangat disayangkan kenyataannya hingga kini sampah masih menjadi sumber penyebab polusi.

Pokja AMPL Nasional dibentuk tahun 1997 untuk meningkatkan koordinasi antar lembaga pemerintah pelaku pembangungan air minum dan sanitasi.

Dalam menangani masalah sampah, sejumlah upaya dilakukan Pokja AMPL Nasional diantaranya program Bank Sampah, Sanitasi Sekolah, Percepatan Permbangunan Sanitasi Permukiman (PPSP), dan juga Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang fokus pada perubahan perilaku hidup bersih dan sehat di tingkat masyarakat.

Melalui program Bank Sampah, saat ini telah telah banyak sampah yang terdaur ulang menjadi barang bermanfaat seperti dompet yang berasal dari sisa bungkus kopi atau tas yang dibuat dari sampah bungkus mie instan.

Kemudian melalui program Sanitasi Sekolah saat ini semakin banyak pelajar yang melakukan sadar akan pentingnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), salah satunya seperti buang sampah pada tempatnya.

Program ini bertujuan untuk menanamkan dan menyadarkan PHBS di lingkungan sekolah, saat ini Sanitasi Sekolah telah diimplementasikan ke 450 sekolah dasar di Sulawesi Selatan, NTT dan Papua Barat.

Sementara itu, program PPSP menargetkan pengurangan timbunan sampah dari sumbernya dan penanganan sampah yang ramah lingkungan.

Sampai 2014 telah ada 446 kabupaten/kota yang menjadi peserta PPSP. Melalui keikutsertaan ini kabupaten/kota secara tidak langsung berkomitmen untuk membangun sanitasi di daerahnya.

Melalui program Sanitasi Total Berbasi Masyarakat (STBM) kini semakin banyak masyarakat yang sadar akan pentingnya PHBS.

STBM memiliki 5 pilar dalam mendorong terjadinya perubahan perilaku higien, di mana salah satunya memicu masyarakat untuk mengelola sampah rumah tangga.

Sampai 2015, STBM menargetkan sebanyak 20 ribu desa di Indonesia telah melaksanakan STBM dan sampai saat ini telah ada 16.228 di 34 provinsi telah melaksanakan STBM.

Berbagai upaya penting yang telah dilakukan ini tidak lain untuk meningkatkan kondisi sanitasi yang belum optimal. “Bukan hanya agar karena bencana banjir tidak lagi terjadi, namun juga agar kedepannya angka kesehatan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia bisa lebih baik lagi,” pungkas Nugroho. (moh)

 

 

Statistik

Members : 26847
Content : 3806
Web Links : 1
Content View Hits : 2677110

Pengumuman

KominfoNewsCenter

Who's Online

We have 13 guests online